20 Juni 2024

Adlaniyah 1926 – 1999

Menurut catatan sejarah, bahwa pendidikan Islam atau madrasah yang pertama kali berdiri di Ujung Gading Pasaman Barat adalah madrasah Adlaniyah pada tahun 1926. Dalam catatan almarhum ust Zaini Dahlan yang merupakan murid dari syekh Muhammad Adlan (pendiri madrasah Adlaniyah). Bahwa pada penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20, terdapat sejumlah ulama di Air Bangis dan Ujung Gading yang belajar ke Mekkah. Sekembalinya ke kampung, mereka mengajarkan agama Islam dengan memakai kitab kitab ilmu fikih, ushuluddin (berbahasa Arab), disamping mengajarkan bahasa Arab. Ada juga pelajaran dengan menggunakan kitab Arab Melayu karangan Ulama ulama Sumatera, Jawa, Kalimantan, Pattani. Sistem pengajarannya masih seperti “pengajian wirid”. Kegiatan ini diselenggarakan di masjid dan rumah tuan Syekh Muhammad Adlan dengan peserta kebanyakan terdiri dari kalangan muda.

Dengan demikian, kegiatan pendidikan pengajaran yang melembaga dan formal hingga saat itu belum ada. karena itulah muncul prakarsa dari ‘pulu palo’ atau kepala Nagari Ujung Gading (Regen Raja Panjang ‘raja buyu’) bersama beberapa orang tokoh masyarakat untuk mendirikan madrasah. Para tokoh masyarakat Ujung Gading ini bersepakat menemui Syekh Muhammad Adlan yang biasa dipanggil Buya, meminta kesediaan beliau untuk mendirikan sekolah agama di Ujung Gading. Maka kemudian berdirilah Madrasah Adlaniyah. Perguruan agama ini termasuk tertua di Sumatera Barat, sekaligus madrasah pertama di daerah Pasaman Barat.

Buya Syekh H Muhammad Adlan, merupakam salah seorang tokoh ulama dari Sumatera Barat di zaman kolonial Belanda yang sempat menuntut ilmu selama? +? 9 tahun di Mekkah al-Mukarromah, bersama sama dengan Syekh Sulaiman ar-Rasuli yang dikenal dengan Inyiak Parabek. Beliau lahir pada tahun 1886 dan meninggal dunia dalam usia sekitar 74 tahun. Persisnya pada tanggal 11 September 1960 di Ujung Gading.

Alumnus Madrasah Adlaniyah ada yang melanjutkan studinya ke Mekkah dan India dan beberapa kota di Sumatera seperti ke Bukittinggi, Padang dan Medan. Banyak pula di antaranyayang kemudian mendirikan madarasah, baik di sekitar Ujung Gading maupun tempat lain, seperti madrasah Darul Hadits di Tamiang yang didirikan oleh Ustadz Darmawi Lubis (kemudian menjadi cikal bakal Madrasah Muallimin Muhammadiyah Tamiang saat ini). Madrasah Islamiyah di Sungai Aur oleh Ustadz Abu Bakar, dan Madrasah di Silaping oleh Ust Asnawi. Para Alumni Adlaniyah berhasil menggerakkan masyarakat Ujung Gading dan sekitarnya untuk berlomba menuntut ilmu pengetahuan, baik agama maupun umum.

Madrasah Adlaniyah pernah pula mengalami masa-masa sulit bahkan sempat menghentikan aktifitas belajar mengajar. Akibat penjajahan Jepang dan perang kemerdekaan, kegiatan terhenti, kemudian diteruskan kembali setelah keadaan tanah air mulai pulih. Pada tahun 1953, madrasah Adlaniyah dibuka kembali dan berjalan terus sampai sekarang ini.?

Adapun sistem pembelajaran di Madrasah Adlaniyah saat itu mengikuti sistem salafiah, yaitu membaca kitab, hafalan dan munaqosyah. Para murid diharuskan tinggal di pondok-pondok yang dibangun sendiri di sekitar madrasah. sistem ini memerlukan waktu 7 tahun untuk menyelesaikan sejak dari tingkat Tsanawiyah hingga tingkat Aliyah.

Setelah Abuya Syekh H Muhammad Adlan wafat pada tahun 1960, kepemimpinan pesantren diamanahkan kepada Ustadz Burhan, salah seorang ustadz dan alumni senior. tetapi pada tahun 1978, karena kondisi kesehatan beliau sudah mulai udzur, keluarga di Ujung Gading menyampaikan amanah beliau kepada Nazri Adlani putra abuya Muhammad Adlan agar saya melanjutkan kepemimpinan Madrasah Adlaniyah. Maka mulai tahun 1978 Nazri Adlani mendirikan Yayasan Pesantren Adlaniyah, dengan tujuan agar Pesantren yang didirikan Abuya pada tahun 1926 itu dikelola oleh kelembagaan yang memiliki badan hukum.

https://farmaciaucm.com/generico-cialis-online-gratis/